Al Shahab U19 menjadi lawan pada terakhir timnas U19 pada tur Timur Tengah bulan April ini. Dalam satu-satu pertandingan yang tidak menghadapi semua timnas ini, Indra Sjafri memilih menurunkan pemain-pemain yang tidak biasa. Tidak satupun diturunkan pemain inti yang relatif sudah established. Para pemain pelapis kali mendapat kesempatan untuk unjuk gigi. Bahkan sejumlah pemain lapis ketiga juga mendapatkan menit bermain.
Kiper Diky Indriyana misalnya, adalah pilihan ketiga setelah Ravi Murdianto dan Awan Seto. Seandainya Rully Desrian tidak dicoret karena alasan indisipliner, Diky Indriyana adalah pilihan keempat. Diky adalah pemain baru, yang bergabung dengan timnas U19 pada Desember 2013. Melihat penampilan Ravi dan Awan Seto yang cukup meyakinkan selama ini, peluang Diky untuk bersaing memperebutkan posisi kiper utama agak berat.
Kapten tim Ryuji Utomo sedang berjuang untuk merebut posisi Sahrul Kurniawan di sentral pertahanan. Kali ini Ryuji berduet dengan sesama pemain pelapis, Febly Gushendra untuk menjaga jantung pertahanan Indonesia. Menurut penilaian saya, peluang Febry merebut posisi di tim inti tak sebenar Ryuji.
Dua bek sayap, Eriyanto dan Mahdi Fahri Albaar, keduanya juga pemain pelapis. Mereka cenderung bermain lebih menyerang dibandingkan pilihan utama, Putu Gede Juni Antara dan Fatchu Rohman. Lebih ofensif tidak lalu berarti lebih baik. Eriyanto dan Mahdi relatif kesulitan mengkonversi tusukan-tusukan mereka menjadi peluang mencetak gol.
Yang paling menarik adalah ketiga gelandang: Paolo Sitanggang, Zulfiandi dan Hendra Sandi. Mereka bertiga sebenarnya bersaing untuk merebut satu posisi di tim inti, mendampingi Evan Dimas Darmono dan Hargianto. Penampilan gemilang Paolo saat melawan UEA sepertinya membuatnya lebih diunggulkan merebut posisi inti tersebut.
Dua penyerang sayap juga pemain pelapis, yaitu Dinan Javier dan Miftahul Hamdy. Mereka mendampingi Dimas Drajad yang menjadi penyerang tengah. Dimas Drajad sebelumnya sukses menjadi supersub, mencetak tiga gol dari tiga penampilan terakhir timnas U19.
Walaupun menurunkan banyak pemain pelapis, timnas tetap mampu mendominasi permainan di babak pertama. Dimas Drajad membuka kemenangan setelah menerima umpan terobosan dari sisi kanan. Dengan begitu Dimas Drajad sudah mencetak empat gol dalam empat pertandingan, memberikan tekanan kepada penyerang tengah pilihan utama, Mukhlis Hadi Ning Syaifullah. Skor 1-0 untuk Indonesia.
Gol balasan Al Shahab berasal dari umpan lambung Rashed Mohamed ke langsung kotak penalti. Kiper Diky Indriyana terlihat sudah menangkap bola dengan kedua tangannya, tapi Jasem Hassan tetap menyundul bola tersebut dari tangan Diky. Wasit tidak menganggapnya sebagai pelanggaran. Bola liar lalu disambar Mohamed Obaid ke gawang Indonesia. Skor sekarang 1-1.
Gol balasan Al Shahab U19 tidak membuat timnas goyah. Ketiga gelandang Hendra Sandi, Paolo Sitanggang dan Zulfiandi tetap solid dan mendominasi lapangan tengah. Zulfiandi membuat Indonesia kembali unggul dengan sebuah tembakan dari luar kotak penalti. Babak pertama berakhir dengan keunggulan Indonesia 2-1.
Di babak kedua permainan keras Al Shahab mulai memakan korban. Bek kiri Mahdi Fahri dan pemain pengganti Septian David Maulana harus digotong keluar lapangan karena cedera dilanggar pemain Al Shahab. Ritme permainan Indonesia kacau di babak kedua ini dan lini tengah tak lagi mendominasi. Al Shahab mencetak gol balasan lewat tembakan jarak jauh Mohamed Obaid.
Di babak kedua ini Indonesia menurunkan lebih banyak lagi pemain pelapis. Al Komar, Yabes Roni, Reza Pahlevi dan Septian David Maulana mendapat kesempatan turun sebagai pemain pengganti. Sayangnya permainan mereka tidak mampu membuat timnas U19 mengembalikan dominasinya di pertandingan ini.
Yabes Roni paling mencuri perhatian di babak kedua ini. Dia bermain dengan intensitas tinggi, agresif menyerang, punya idea dan kreativitas, dan juga skill dan keberanian. Tapi kebanyakan usahanya terkesan individual dan agak tidak sinkron dengan teman-temannya. Yabes harus lebih berusaha meningkatkan saling pengertian dengan rekan-rekannya untuk meningkatkan peluangnya menembus tim inti.
Rekaman highlight pertandingan ini dapat disaksikan di http://www.youtube.com/watch?v=h9mBBgZm63w
Susunan pemain Indonesia U19:
Diky Indriyana, Eriyanto, Ryuji Utomo, Febly Gushendra, Mahdi Fahri Albaar/Al Komar, Hendra Sandi, Paolo Sitanggang, Zulfiandi/Yabes Roni Malaifani, Dinan Javier/Reza Pahlevi, Dimas Drajad,
Miftahul Hamdy/Septian David Maulana.
Saturday, 19 April 2014
Thursday, 17 April 2014
Badai hanya satu babak, Timnas U19 sekali lagi menaklukkan UEA 2-1.
Timnas UEA U19 sudah punya persiapan untuk membalas kekalahan 4-1 di pertandingan pertama. Mereka tampil agresif dengan intensitas lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka tidak membiarkan Indonesia dominan di lini tengah, tidak segan-segan melakukan hadangan-hadangan fisik untuk menghambat aliran bola kita. Dan UEA juga sudah mempersiapkan pola serangan dan merancang peluang demi peluang.
UEA sangat merepotkan tim kita di babak pertama. Peluang demi peluang bisa dibangun oleh tim lawan. Mulai dari sundulan di kotak penalti, tembakan dari dalam kotak penalti, overhead kick dan serangkaian tembakan dari luar kotak penalti. Beruntung penyelesaian akhir UEA di babak pertama memang tidak istimewa, sehingga peluang-peluang itu tidak ada yang berhasil mengoyak gawang Indonesia.
Dan timnas U19 juga tak tumbang diterpa badai. Para gelandang dan penyerang seperti tidak pernah kehabisan akal untuk membuat peluang demi peluang, walaupun lini tengah UEA bekerja keras untuk menghambat. Baik Maldini Pali, Mukhlis Hadi Ning Syaifullah maupun Ilham Udin Armayn, ketiganya punya peluang yang mengancam gawang UEA di babak pertama ini.
Gol pertama Indonesia adalah hasil dari perencanaan yang brilian. Hargianto menyadari posisi Mukhlis Hadi di kotak penalti, memberikan umpan terobosan kedalam kotak penalti. Mukhlis Hadi bereaksi cepat mengejar bola dan menaklukkan kiper UEA, Sultan Almunthery. Skor 1-0 untuk Indonesia.
Di babak kedua, UEA harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Mohamed Abdul Baset mendapat kartu merah. Permainan keras yang diperagakan ternyata menjadi bumerang bagi UEA. Namun justru dengan sepuluh pemain, UEA mampu mencetak gol balasan.
Untuk kesekian kalinya timnas U19 terlihat rentan menghadapi set piece. Kali ini gol tidak berawal dari tendangan sudut, tapi lemparan kedalam. Sebuah lemparan kedalam di sisi kiri pertahanan Indonesia membawa bola melewati barisan bek, lalu dibawa ke Rashid Ghanem ke kotak penalti dan umpan yang akurat diselesaikan dengan matang oleh Jasim Johar.
Lalu, sekali lagi penampilan keras UEA menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Kali ini Abdullah al Noubi yang mendapat kartu merah, dan UEA harus menghadapi Indonesia dengan sembilan pemain. Sesungguhnya gol kemenangan Indonesia tidaklah datang dengan mudah, walaupun sebelas pemain Indonesia menghadapi sembilan pemain UEA. Untunglah kita punya Dimas Drajad yang dalam tiga partai terakhir mempu berperan sebagai supersub.
Gol Indonesia kembali berawal dari umpan terobosan ke kotak penalti. Kali ini assist itu dilakukan oleh Evan Dimas Darmono. Dengan ketenangan seorang striker sejati, Dimas Drajad menyelesaikan dengan sebuah sontekan ke gawang Sultan Almunthery. Dengan tiga gol di tiga pertandingan terakhir sebagai pemain pengganti, Dimas Drajad menunjukkan diri sebagai seorang penyerang tengah sejati, yang sanggup bersaing dengan Mukhlis Hadi Ning Syaifullah memperebutkan tempat di tim inti.
Rekaman lengkap pertandingan ini bisa disaksikan di http://www.youtube.com/watch?v=K0m3RE78QNg
Tuesday, 15 April 2014
Ritme timnas U19 mengungguli UEA 4-1
Setelah dua pertandingan melawan Oman, timnas U19 menghadapi lawan tangguh berikutnya dari Asia barat. Timnas Uni Emirat Arab U19 menjadi ujian baru bagi timnas U19. Seperti juga timnas Indonesia dan Oman, timnas UEA U19 juga lolos ke putaran final AFC U19 bulan Oktober nanti di Myanmar.
Sepertinya UEA mengamati pertandingan timnas U19 menghadapi Oman, dan sadar bahwa timnas rentan diserang lewat bola-bola atas. Pada awal pertandingan UEA terlihat menusuk lewat sayap lalu melepaskan umpan lambung. Namun semua usaha awal UEA ini tidak bisa dibilang berhasil.
Dan skenario UEA ini memang hanya berjalan di awal-awal permainan. Setelah itu Indonesia menemukan ritmenya dan tidak membiarkan UEA meneruskan rencana mereka. Seperti biasa permainan Indonesia mengandalkan kelihaian ketiga gelandangnya mengalirkan bola, dan kemampuan para penyerang membuka ruang dan menusuk pertahanan lawan.
UEA tadinya berusaha melakukan pressing agar permainan kita tidak berkembang, tapi para pivot kita seperti M Hargianto dan Paolo Sitanggang begitu percaya diri membawa dan mengalirkan bola walaupun dibawah tekanan. Dan jika tekanan makin berat, bek sayap dan bahkan penyerang sayap bergerak mendekat untuk menjadi opsi umpan berikutnya. Operan demi operan yang berjalan lancar membuat pertandingan ini berjalan sesuai ritme Indonesia.
Paolo Sitanggang tampil memukau pada pertandingan ini. Indonesia seolah punya seorang pengatur tempo seperti Xavi Hernandes. Paolo mampu membantu pertahanan, mengirimkan umpan-umpan metronom, melakukan intersep hingga melepaskan umpan-umpan berbahaya ke jantung pertahanan UEA. Dengan penampilannya hari ini, menurut saya seharusnya Paolo sementara memenangkan persaingan memperebutkan posisi di tim inti dengan Zulfiandi dan Hendra Sandy.
Gol pertama diawali dari kejelian dan skill Evan Dimas, yang memberikan through pass ke Ilham Udin Armayn. Walaupun posisi aslinya adalah sayap kiri, Ilham justru lepas di tengah langsung ke kotak penalti dan menaklukkan kiper lawan. Skor 1-0 bertahan hingga akhir babak pertama.
Diawal babak kedua UEA mendapatkan tendangan bebas dari sisi kanan pertahanan Indonesia. Umpan lambung disambut oleh sundulan Khaled Abdul Rahim menghasilkan gol. Umpan lambung dan bola-bola atas masih menjadi PR bagi tim kita.
Tapi lini tengah masih didominasi Indonesia. Gol kedua diawali oleh umpan Paolo Sitanggang ke sayap kanan, yang diteruskan ke kotak penalti lawan oleh Putu Gede Juni Antara dan Maldini Pali. Gol dicetak oleh Evan Dimas yang datang dari membantu dari lini kedua. Skor 2-1 untuk Indonesia.
Septian David Maulana dan Dimas Drajad yang sama-sama punya andil atas gol kemenangan Indonesia atas Oman, kembali bersinar saat tampil sebagai pemain pengganti. Baik David Maulana maupun Dimas Drajad sama-sama menyumbangkan satu gol dalam pertandingan ini. Dengan demikian skor akhir adalah 4-1 untuk Indonesia.
Seperti pertandingan sebelumnya, David Maulana kembali memperlihatkan kemampuan finishing yang dimilinya. Di timnas U19, mungkin hanya Evan Dimas Darmono yang lebih baik dalam soal penyelesaian akhir. Pada pertandingan melawan Oman, David Maulana kurang beruntung karena tembakan kerasnya masih ditepis kiper lalu membentur tiang, sebelum dijebloskan ke gawang oleh Dimas Drajad. Kali ini melawan UAE sebuah penyelesaian dingin dari David Maulana mengubah skor menjadi 3-1. Maldini Pali dan Ilham Udin Armayn tidak bisa berleha-leha jika tidak ingin posisi mereka di tim inti direbut oleh Septian David Maulana.
Dimas Drajad, menurut saya, harus coba ditampilkan sebagai starter. Menggantikan penyerang tengah Mukhlis Hadi Ning Syaifullah yang gagal bersinar, Dimas Drajad tampil cemerlang. Dalam pertandingan ini sebagai Dimas Drajad terlibat dalam open play membangun serangan, sesekali melebar ke sayap kanan, dan memnafaatkan umpan Yabes Roni Malaifani untuk mencetak gol keempat yang membawa timnas Garuda Jaya memenangkan pertandingan ini 4-1.
Kredit juga harus diberikan pada kiper Awan Seto dan bek tengah Ryuji Utomo yang kali ini diberi kepercayaan sebagai starter. Keduanya tampil bagus dan mampu bekerjasama dengan baik dengan teman-temannya di lini belakang. Hanya saja umpan lambung dan bola-bola atas masih menjadi PR bagi lini belakang kita.
Jalannya sebagian besar pertandingan dapat disaksikan disini http://www.youtube.com/watch?v=F5wz_jbGdFo. Gol-gol Indonesia bisa disaksikan di http://www.youtube.com/watch?v=3El5fyvUaXk.
Sepertinya UEA mengamati pertandingan timnas U19 menghadapi Oman, dan sadar bahwa timnas rentan diserang lewat bola-bola atas. Pada awal pertandingan UEA terlihat menusuk lewat sayap lalu melepaskan umpan lambung. Namun semua usaha awal UEA ini tidak bisa dibilang berhasil.
Dan skenario UEA ini memang hanya berjalan di awal-awal permainan. Setelah itu Indonesia menemukan ritmenya dan tidak membiarkan UEA meneruskan rencana mereka. Seperti biasa permainan Indonesia mengandalkan kelihaian ketiga gelandangnya mengalirkan bola, dan kemampuan para penyerang membuka ruang dan menusuk pertahanan lawan.
UEA tadinya berusaha melakukan pressing agar permainan kita tidak berkembang, tapi para pivot kita seperti M Hargianto dan Paolo Sitanggang begitu percaya diri membawa dan mengalirkan bola walaupun dibawah tekanan. Dan jika tekanan makin berat, bek sayap dan bahkan penyerang sayap bergerak mendekat untuk menjadi opsi umpan berikutnya. Operan demi operan yang berjalan lancar membuat pertandingan ini berjalan sesuai ritme Indonesia.
Paolo Sitanggang tampil memukau pada pertandingan ini. Indonesia seolah punya seorang pengatur tempo seperti Xavi Hernandes. Paolo mampu membantu pertahanan, mengirimkan umpan-umpan metronom, melakukan intersep hingga melepaskan umpan-umpan berbahaya ke jantung pertahanan UEA. Dengan penampilannya hari ini, menurut saya seharusnya Paolo sementara memenangkan persaingan memperebutkan posisi di tim inti dengan Zulfiandi dan Hendra Sandy.
Gol pertama diawali dari kejelian dan skill Evan Dimas, yang memberikan through pass ke Ilham Udin Armayn. Walaupun posisi aslinya adalah sayap kiri, Ilham justru lepas di tengah langsung ke kotak penalti dan menaklukkan kiper lawan. Skor 1-0 bertahan hingga akhir babak pertama.
Diawal babak kedua UEA mendapatkan tendangan bebas dari sisi kanan pertahanan Indonesia. Umpan lambung disambut oleh sundulan Khaled Abdul Rahim menghasilkan gol. Umpan lambung dan bola-bola atas masih menjadi PR bagi tim kita.
Tapi lini tengah masih didominasi Indonesia. Gol kedua diawali oleh umpan Paolo Sitanggang ke sayap kanan, yang diteruskan ke kotak penalti lawan oleh Putu Gede Juni Antara dan Maldini Pali. Gol dicetak oleh Evan Dimas yang datang dari membantu dari lini kedua. Skor 2-1 untuk Indonesia.
Septian David Maulana dan Dimas Drajad yang sama-sama punya andil atas gol kemenangan Indonesia atas Oman, kembali bersinar saat tampil sebagai pemain pengganti. Baik David Maulana maupun Dimas Drajad sama-sama menyumbangkan satu gol dalam pertandingan ini. Dengan demikian skor akhir adalah 4-1 untuk Indonesia.
Seperti pertandingan sebelumnya, David Maulana kembali memperlihatkan kemampuan finishing yang dimilinya. Di timnas U19, mungkin hanya Evan Dimas Darmono yang lebih baik dalam soal penyelesaian akhir. Pada pertandingan melawan Oman, David Maulana kurang beruntung karena tembakan kerasnya masih ditepis kiper lalu membentur tiang, sebelum dijebloskan ke gawang oleh Dimas Drajad. Kali ini melawan UAE sebuah penyelesaian dingin dari David Maulana mengubah skor menjadi 3-1. Maldini Pali dan Ilham Udin Armayn tidak bisa berleha-leha jika tidak ingin posisi mereka di tim inti direbut oleh Septian David Maulana.
Dimas Drajad, menurut saya, harus coba ditampilkan sebagai starter. Menggantikan penyerang tengah Mukhlis Hadi Ning Syaifullah yang gagal bersinar, Dimas Drajad tampil cemerlang. Dalam pertandingan ini sebagai Dimas Drajad terlibat dalam open play membangun serangan, sesekali melebar ke sayap kanan, dan memnafaatkan umpan Yabes Roni Malaifani untuk mencetak gol keempat yang membawa timnas Garuda Jaya memenangkan pertandingan ini 4-1.
Kredit juga harus diberikan pada kiper Awan Seto dan bek tengah Ryuji Utomo yang kali ini diberi kepercayaan sebagai starter. Keduanya tampil bagus dan mampu bekerjasama dengan baik dengan teman-temannya di lini belakang. Hanya saja umpan lambung dan bola-bola atas masih menjadi PR bagi lini belakang kita.
Jalannya sebagian besar pertandingan dapat disaksikan disini http://www.youtube.com/watch?v=F5wz_jbGdFo. Gol-gol Indonesia bisa disaksikan di http://www.youtube.com/watch?v=3El5fyvUaXk.
Saturday, 12 April 2014
Kemenangan tak meyakinkan: Indonesia U19 - Oman U19 2 - 1
Timnas U19 sepertinya identik dengan formasi 4-3-3. Formasi ini sedang populer karena digunakan oleh Barcelona dan tiki takanya. Tapi ada sejumlah perbedaan antara formasi timnas U19 dengan formasi Barca.
1. Timnas U19 tidak memiliki bek sayap serang seperti Dani Alves. Bek sayap timnas cenderung lebih berperan sebagai half-back.
2. Sepertinya tidak ada gelandang bertahan seperti Sergio Busquets. Ketiga gelandang timnas U19 sama-sama tampil box-to-box bertahan dan menyerang.
3. Mukhlis Hadi Ning Syaifullah lebih tepat disebut penyerang tengah daripada false-nine.
Tiga gelandang jelas tidak cukup untuk mendominasi lapangan tengah. Evan Dimas Darmono, Hargianto dan Zulfiandi mungkin berjuang lebih keras di lapangan dibanding pemain lain. Dengan lawan yang kelasnya setara, sulit mengharapkan dominasi penguasaan bola. Pertahanan tim secara keseluruhan tak bisa dibilang sulit. Tapi disisi lain, kedua sayap Ilham Udin dan Maldini Pali sepertinya selalu sedia untuk menerima umpan, membuka ruang dan merobek lini pertahanan Oman.
Demikianlah secara umum kedua tim ini berimbang. Oman juga cenderung memainkan passing game dari kaki ke kaki dan jarang memainkan long ball. Serangan demi serangan Oman cukup merepotkan kiper Ravi Murdianto.
Gol pertama timnas U19 berasal dari keteledoran pemain belakang Oman. Saat berusaha menghalau bola, salah seorang pemain Oman justru handsball di kotak penalti. Kesempatan ini tidak disia-siakan Fatchu Rohman untuk menyarangkan bola ke sisi kanan gawang Oman.
Tapi keunggulan ini tak bertahan lama. Muaadh al Khaldi mencetak gol dengan sundulan menyambut sepak pojok. Gol ini menerbitkan pertanyaan tentang lemahnya timnas U19 dalam bertahan menghadapi bola-bola atas. Bagaimana jika lawan di putaran final piala AFC U19 memutuskan untuk memaksimalkan bola-bola atas.
Gol kemenangan timnas U19 terjadi berkat andil dua pemain pengganti, David Maulana dan Dimas Drajad. Tembakan David Maulana yang tadinya menusuk dari sisi kanan tak dapat diantisipasi sempurna oleh kiper Oman, dan bola kemelut disundul dengan tenang oleh Dimas Drajad kotak penalti.
Artinya, David Maulana dan Dimas Drajad menunjukkan bahwa mereka sanggup bersaing dengan para penyerang pilahan utama. Saya rasa Indra Sjafri perlu mencoba mereka sebagai starter diantara pertandingan-pertandingan uji coba berikutnya. Bukankah saat uji coba adalah saat yang tepat untuk bereksperimen. Posisi di starting eleven masih bisa berubah.
Ada sisi positif lain dari gol kemenangan tersebut. Indra Sjafri sepertinya cukup teliti merencanakan penggantian pemain. Memang sepakbola modern tidak bisa hanya mengandalkan 11 orang pemain starting eleven. Skema pergantian pemain juga harus direncanakan dengan matang.
Rekaman lengkap pertandingan ini dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=zaygz25PeT4 dan http://www.youtube.com/watch?v=AWhw_3sNe30.
Oman
Bilal al Bulushi, Hasan al Saadi/Muaadh al Khaldi, Hassan al Ajmi, Bassam al Salehi, Marwan al Shiabi/Abdullah Khamis, Juma al Habsi, Abdulla Juma, Anjad al Alawi/Abdullah al Mishaikhi, Abdullah Fawaz, Al Mundhar Rabia/Muhsen al Ghasani, Mazin al Bulushi
Indonesia
Ravi Murdianto, Putu Gede Juni Antara, M Sahrul Kurniawan, Hansamu Yama Pratama, M Fatchu Rohman, Evan Dimas Darmono, M Hargianto, Zulfiandi/Paolo Sitanggang, Maldini Pali, Mukhlis Hadi Ning Syaifulloh (Dimas Drajad), Ilham Udin Armayn/Septian David Maulana
P.S.
Pertandingan ini timnas Indonesia U19 melawan Oman U19 ini berlangsung 11 April 2014. Dua hari sebelumnya kedua tim juga bertemu. Kala itu Oman memenangkan pertandingan dengan skor 2-1
1. Timnas U19 tidak memiliki bek sayap serang seperti Dani Alves. Bek sayap timnas cenderung lebih berperan sebagai half-back.
2. Sepertinya tidak ada gelandang bertahan seperti Sergio Busquets. Ketiga gelandang timnas U19 sama-sama tampil box-to-box bertahan dan menyerang.
3. Mukhlis Hadi Ning Syaifullah lebih tepat disebut penyerang tengah daripada false-nine.
Tiga gelandang jelas tidak cukup untuk mendominasi lapangan tengah. Evan Dimas Darmono, Hargianto dan Zulfiandi mungkin berjuang lebih keras di lapangan dibanding pemain lain. Dengan lawan yang kelasnya setara, sulit mengharapkan dominasi penguasaan bola. Pertahanan tim secara keseluruhan tak bisa dibilang sulit. Tapi disisi lain, kedua sayap Ilham Udin dan Maldini Pali sepertinya selalu sedia untuk menerima umpan, membuka ruang dan merobek lini pertahanan Oman.
Demikianlah secara umum kedua tim ini berimbang. Oman juga cenderung memainkan passing game dari kaki ke kaki dan jarang memainkan long ball. Serangan demi serangan Oman cukup merepotkan kiper Ravi Murdianto.
Gol pertama timnas U19 berasal dari keteledoran pemain belakang Oman. Saat berusaha menghalau bola, salah seorang pemain Oman justru handsball di kotak penalti. Kesempatan ini tidak disia-siakan Fatchu Rohman untuk menyarangkan bola ke sisi kanan gawang Oman.
Tapi keunggulan ini tak bertahan lama. Muaadh al Khaldi mencetak gol dengan sundulan menyambut sepak pojok. Gol ini menerbitkan pertanyaan tentang lemahnya timnas U19 dalam bertahan menghadapi bola-bola atas. Bagaimana jika lawan di putaran final piala AFC U19 memutuskan untuk memaksimalkan bola-bola atas.
Gol kemenangan timnas U19 terjadi berkat andil dua pemain pengganti, David Maulana dan Dimas Drajad. Tembakan David Maulana yang tadinya menusuk dari sisi kanan tak dapat diantisipasi sempurna oleh kiper Oman, dan bola kemelut disundul dengan tenang oleh Dimas Drajad kotak penalti.
Artinya, David Maulana dan Dimas Drajad menunjukkan bahwa mereka sanggup bersaing dengan para penyerang pilahan utama. Saya rasa Indra Sjafri perlu mencoba mereka sebagai starter diantara pertandingan-pertandingan uji coba berikutnya. Bukankah saat uji coba adalah saat yang tepat untuk bereksperimen. Posisi di starting eleven masih bisa berubah.
Ada sisi positif lain dari gol kemenangan tersebut. Indra Sjafri sepertinya cukup teliti merencanakan penggantian pemain. Memang sepakbola modern tidak bisa hanya mengandalkan 11 orang pemain starting eleven. Skema pergantian pemain juga harus direncanakan dengan matang.
Rekaman lengkap pertandingan ini dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=zaygz25PeT4 dan http://www.youtube.com/watch?v=AWhw_3sNe30.
Oman
Bilal al Bulushi, Hasan al Saadi/Muaadh al Khaldi, Hassan al Ajmi, Bassam al Salehi, Marwan al Shiabi/Abdullah Khamis, Juma al Habsi, Abdulla Juma, Anjad al Alawi/Abdullah al Mishaikhi, Abdullah Fawaz, Al Mundhar Rabia/Muhsen al Ghasani, Mazin al Bulushi
Indonesia
Ravi Murdianto, Putu Gede Juni Antara, M Sahrul Kurniawan, Hansamu Yama Pratama, M Fatchu Rohman, Evan Dimas Darmono, M Hargianto, Zulfiandi/Paolo Sitanggang, Maldini Pali, Mukhlis Hadi Ning Syaifulloh (Dimas Drajad), Ilham Udin Armayn/Septian David Maulana
P.S.
Pertandingan ini timnas Indonesia U19 melawan Oman U19 ini berlangsung 11 April 2014. Dua hari sebelumnya kedua tim juga bertemu. Kala itu Oman memenangkan pertandingan dengan skor 2-1
Friday, 11 April 2014
Indra Sjafri: Attitude!
Penggemar bola seusia Indra Sjafri biasanya adalah penggemar Diego Maradona. Tapi pelatih timnas U19 lebih memilih Zico. Penyerang legendaris dengan julukan "Pele putih" ini adalah bintang piala dunia 1982 di Spanyol. Di piala dunia 1982 itu, Zico membawa Brazil mengalahkan Argentina 3-1, dan Maradona mendapat kartu merah dalam pertandingan itu.
Kembali ke Indra Sjafri, pilihannya pada Zico menunjukkan bahwa pelatih timnas U19 ini memiliki kepribadian yang kuat. Kalau meminjam slogan acara Smackdown di era 90-an, Indra Sjafri punya attitude. Dia yakin dengan pilihannya sendiri dan tidak sekedar ikut trend atau hype.
Buktinya, Indra Sjafri melanjutkan kalau pemain lainnya yang dia gemari adalah...dirinya sendiri.
Nama Indra Sjafri tidak begitu terdengar saat berkarir sebagai pemain di dekade 80-an. Indra Sjafri menghabiskan karirnya bersama PSP Padang yang bermain di kasta tertinggi kompetisi perserikatan. Indra Sjafri juga bermain untuk PS Machudum, klub anggota PSP Padang.
Menurut Indra Sjafri, kualitas dirinya waktu itu cukup bagus untuk bisa menembus timnas. Saya rasa yang dia maksud adalah timnas kelompok umur, mungkin U19 atau U23. Tapi Indra Sjafri sangat kecewa karena akhirnya dia tidak kunjung dipanggil ke timnas manapun. Indra menuding kegagalan dirinya karena masuk timnas lebih karena faktor non teknis. Di dekade 80-an ada tudingan kalau posisi timnas lebih diperuntukkan bagi pemain-pemain bermain untuk klub-klub pulau Jawa.
Mungkin karena itulah Indra Sjafri seperti tidak peduli dengan daerah asal pemainnya. Biasanya ada daerah yang dianggap sebagai "lumbung pemain" seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Maluku dan Papua. Indra Sjafri tidak ragu-ragu memanggil Yabes Roni Malaifani, pemain asal NTT. Padahal NTT secara bukan propinsi yang berprestasi dalam sepakbola. Dan dalam kualifikasi piala AFC U19 tahun lalu Yabes Roni menjadi pahlawan dengan mencetak gol kedua saat timnas U19 mengalahkan Philipina 2-0.
Kembali ke Indra Sjafri, pilihannya pada Zico menunjukkan bahwa pelatih timnas U19 ini memiliki kepribadian yang kuat. Kalau meminjam slogan acara Smackdown di era 90-an, Indra Sjafri punya attitude. Dia yakin dengan pilihannya sendiri dan tidak sekedar ikut trend atau hype.
Buktinya, Indra Sjafri melanjutkan kalau pemain lainnya yang dia gemari adalah...dirinya sendiri.
Nama Indra Sjafri tidak begitu terdengar saat berkarir sebagai pemain di dekade 80-an. Indra Sjafri menghabiskan karirnya bersama PSP Padang yang bermain di kasta tertinggi kompetisi perserikatan. Indra Sjafri juga bermain untuk PS Machudum, klub anggota PSP Padang.
Menurut Indra Sjafri, kualitas dirinya waktu itu cukup bagus untuk bisa menembus timnas. Saya rasa yang dia maksud adalah timnas kelompok umur, mungkin U19 atau U23. Tapi Indra Sjafri sangat kecewa karena akhirnya dia tidak kunjung dipanggil ke timnas manapun. Indra menuding kegagalan dirinya karena masuk timnas lebih karena faktor non teknis. Di dekade 80-an ada tudingan kalau posisi timnas lebih diperuntukkan bagi pemain-pemain bermain untuk klub-klub pulau Jawa.
Mungkin karena itulah Indra Sjafri seperti tidak peduli dengan daerah asal pemainnya. Biasanya ada daerah yang dianggap sebagai "lumbung pemain" seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Maluku dan Papua. Indra Sjafri tidak ragu-ragu memanggil Yabes Roni Malaifani, pemain asal NTT. Padahal NTT secara bukan propinsi yang berprestasi dalam sepakbola. Dan dalam kualifikasi piala AFC U19 tahun lalu Yabes Roni menjadi pahlawan dengan mencetak gol kedua saat timnas U19 mengalahkan Philipina 2-0.
Thursday, 10 April 2014
Timnas U19 Tumbang Melawan Oman
Timnas U19 merasakan kekalahan pertama tahun 2014 ini. Tim asuhan Indra Sjafri ini tumbang di tangan timnas Oman U19 pada 9 April 2014 yang lalu. Gol pertama Oman dicetak Hasan Alsadi yang menyambut tendangan penjuru. Gol balasan Ilham Udin Armayn membuat babak kedua berakhir 1-1. Dibabak kedua, Indonesia mendapatkan hadiah penalti yang gagal dimanfaatkan Evan Dimas. Gol Marwan Alsadi membuat pertandingan berakhir 2- 1 untuk keunggulan Oman.
Pertandingan ini tadinya sempat diumumkan akan ditayangkan oleh SCTV. Tapi siaran langsung ini batal karena ada masalah dengan partner yaitu Oman TV. Walau begitu, kedua tim akan bertemu lagi hari ini 11 April 2014, dan kali ini rencananya akan disiarkan langsung oleh SCTV dengan bantuan Oman TV mulai jam 19:30.
Penulis belum menemukan rekaman highlight pertandingan di internet. Jadi kalau penasaran kenapa timnas U19 bisa tumbang, penulis menyarankan untuk menonton siaran langsung malam ini. Dengan demikian kita bisa menyaksikan bagaimana permainan timnas U19 menghadapi sesama tim peserta putaran final piala AFC U19 Oktober nanti di Myanmar.
Referensi.
1. Jalannnya pertandingan Indonesia U19-Oman U19 merujuk pada http://www.tribunnews.com/superball/2014/04/10/timnas-indonesia-u-19-vs-timnas-oman-u-19-1-2-jalannya-pertandingan.
2. Siaran langsung Indonesia U19-Timnas U19 batal tayang merujuk http://bola.kabar24.com/bola-nasional/read/20140409/45/215657/timnas-u-19-vs-oman-u-19-gagal-tayang-sctv-live-ini-alasan-oman-tv-prakiraan-line-up.
3. Susunan pemain diambil dari http://www.goal.com/id-ID/news/1387/nasional/2014/04/09/4741576/laporan-pertandingan-oman-u-19-2-1-indonesia-u-19
Pertandingan ini tadinya sempat diumumkan akan ditayangkan oleh SCTV. Tapi siaran langsung ini batal karena ada masalah dengan partner yaitu Oman TV. Walau begitu, kedua tim akan bertemu lagi hari ini 11 April 2014, dan kali ini rencananya akan disiarkan langsung oleh SCTV dengan bantuan Oman TV mulai jam 19:30.
Penulis belum menemukan rekaman highlight pertandingan di internet. Jadi kalau penasaran kenapa timnas U19 bisa tumbang, penulis menyarankan untuk menonton siaran langsung malam ini. Dengan demikian kita bisa menyaksikan bagaimana permainan timnas U19 menghadapi sesama tim peserta putaran final piala AFC U19 Oktober nanti di Myanmar.
Indonesia U-19: Ravi Murdianto; Putu Gede Juni Antara, M. Sahrul Kurniawan, Hansamu Yama Pranata, M. Fatchu Rochman; M. Hargianto, Zulfiandi, Evan Dimas Darmono; Ilham Udin Armaiyn, Maldini Pali, Muchlis Hadi Ning Syaifulloh
Oman U-19: Bilal Albulushi (GK); Samir Alalawi, Yusuf Alsadi, Hasan Alsadi; Marwan Alsiabi, Iman Ibrahim, Rashed Almushaifri, Mazin Alsadi; Abdullah Fawa, Abdullah Almashaiki
Referensi.
1. Jalannnya pertandingan Indonesia U19-Oman U19 merujuk pada http://www.tribunnews.com/superball/2014/04/10/timnas-indonesia-u-19-vs-timnas-oman-u-19-1-2-jalannya-pertandingan.
2. Siaran langsung Indonesia U19-Timnas U19 batal tayang merujuk http://bola.kabar24.com/bola-nasional/read/20140409/45/215657/timnas-u-19-vs-oman-u-19-gagal-tayang-sctv-live-ini-alasan-oman-tv-prakiraan-line-up.
3. Susunan pemain diambil dari http://www.goal.com/id-ID/news/1387/nasional/2014/04/09/4741576/laporan-pertandingan-oman-u-19-2-1-indonesia-u-19
Saturday, 5 April 2014
Kesalahan Barcelona Dimata Fifa
Barcelona dilanda pukulan berat. FIFA menjatuhkan hukuman larangan melakukan pembelian pemain selama selama 14 bulan. Hukuman ini berat karena akhir musim ini Barca akan ditinggalkan oleh kiper utamanya Victor Valdes dan bek tengah Carlos Puyol.
Dengan keputusan FIFA ini, pembelian kiper Marc-Andre ter Stegen dari Borussia Monchengladbach menjadi mengambang. Begitu juga perekrutan gelandang muda berbakat Allen Halilovic dari Dinamo Zagreb. Rencana Barca untuk membeli bek tengah David Luiz dari Chelsea juga terancam gagal
Barcelona didakwa telah melanggar aturan FIFA tentang transfer pemain asing berusia dibawah 18 tahun. Berdasarkan peraturaan FIFA, transfer pemain asing dibawah 18 tahun ke sebuah klub hanya dibolehkan dengan jika memenuhi satu dari tiga syarat ini:
1. Untuk pemain dari luar Uni Eropa, orang tua pemain itu pindah ke negara tempat klub tersebut karena alasan yang tak terkait sepakbola.
2. Untuk pemain Uni Eropa, transfer bisa dilakukan jika pemain itu sudah berusia diatas 16 tahun.
3. Klub tersebut walau berbeda negara, tapi jarak antara klub tersebut ke rumah si pemain kurang dari 50 km.
Kasus ini cukup mengejutkan karena Barcelona memang terkenal dengan pembinaan pemain usia muda. Akademi mereka, La Masia, mendidik pemain-pemain berbakat dari banyak negara. Bahkan Lionel Messi sudah datang dan berlatih dengan Barcelona sejak tahun 2000, saat usianya 13 tahun.
Menurut situs FC Barcelona sendiri, investigasi FIFA tentang masalah ini berlangsung sejak awal 2013. Barcelona dinyatakan bersalah karena melanggar aturan transfer untuk 9 pemain usia dibawah 18 tahun. Diantara para pemain yang dipermasalahkan adalah dua pemain Korea Selatan, Jang Gyeolhee dan Lee Sung Woo.
Sepertinya pihak Barcelona sendiri tahu kalau mereka bermasalah dengan peraturan transfer pemain usia dibawah 18 tahun. Pada tanggal 1 Maret 2013 Sandro Rosell sebagai presiden Barcelona waktu itu mengirim surat kepada FIFA untuk mengusulkan perubahan aturan transfer pemain usia 18 tahun kebawah.
Referensi:
1. Aturan FIFA tentang transfer pemain asing usia dibawah 18 tahun: http://www.theguardian.com/football/2014/apr/02/barcelona-transfer-ban-warning-signs-fifa
2. Kronologi komunikasi FIFA dan Barcelona tentang kasus pemain asing dibawah usia 18 tahun: http://www.fcbarcelona.com/club/detail/article/a-history-of-the-communications-between-fifa-and-fc-barcelona-concerning-underage-players-registration
Dengan keputusan FIFA ini, pembelian kiper Marc-Andre ter Stegen dari Borussia Monchengladbach menjadi mengambang. Begitu juga perekrutan gelandang muda berbakat Allen Halilovic dari Dinamo Zagreb. Rencana Barca untuk membeli bek tengah David Luiz dari Chelsea juga terancam gagal
Barcelona didakwa telah melanggar aturan FIFA tentang transfer pemain asing berusia dibawah 18 tahun. Berdasarkan peraturaan FIFA, transfer pemain asing dibawah 18 tahun ke sebuah klub hanya dibolehkan dengan jika memenuhi satu dari tiga syarat ini:
1. Untuk pemain dari luar Uni Eropa, orang tua pemain itu pindah ke negara tempat klub tersebut karena alasan yang tak terkait sepakbola.
2. Untuk pemain Uni Eropa, transfer bisa dilakukan jika pemain itu sudah berusia diatas 16 tahun.
3. Klub tersebut walau berbeda negara, tapi jarak antara klub tersebut ke rumah si pemain kurang dari 50 km.
Kasus ini cukup mengejutkan karena Barcelona memang terkenal dengan pembinaan pemain usia muda. Akademi mereka, La Masia, mendidik pemain-pemain berbakat dari banyak negara. Bahkan Lionel Messi sudah datang dan berlatih dengan Barcelona sejak tahun 2000, saat usianya 13 tahun.
Menurut situs FC Barcelona sendiri, investigasi FIFA tentang masalah ini berlangsung sejak awal 2013. Barcelona dinyatakan bersalah karena melanggar aturan transfer untuk 9 pemain usia dibawah 18 tahun. Diantara para pemain yang dipermasalahkan adalah dua pemain Korea Selatan, Jang Gyeolhee dan Lee Sung Woo.
Sepertinya pihak Barcelona sendiri tahu kalau mereka bermasalah dengan peraturan transfer pemain usia dibawah 18 tahun. Pada tanggal 1 Maret 2013 Sandro Rosell sebagai presiden Barcelona waktu itu mengirim surat kepada FIFA untuk mengusulkan perubahan aturan transfer pemain usia 18 tahun kebawah.
Referensi:
1. Aturan FIFA tentang transfer pemain asing usia dibawah 18 tahun: http://www.theguardian.com/football/2014/apr/02/barcelona-transfer-ban-warning-signs-fifa
2. Kronologi komunikasi FIFA dan Barcelona tentang kasus pemain asing dibawah usia 18 tahun: http://www.fcbarcelona.com/club/detail/article/a-history-of-the-communications-between-fifa-and-fc-barcelona-concerning-underage-players-registration
Subscribe to:
Posts (Atom)